Bab 35: Keributan Pendaftaran
Tiga hari kemudian, lima sekte besar Kota Sungai Xiao secara bersama-sama mengumumkan pengadaan kompetisi terbuka di seluruh kota. Saat itu, waktu yang tersisa hingga ajang besar tersebut tepat sepuluh bulan.
Sejak pengumuman itu disebarluaskan, pendaftaran untuk peserta babak penyisihan pun langsung dibuka, bertempat di alun-alun pusat Kota Sungai Xiao.
Pendaftaran dibuka selama satu bulan. Setelah itu, pada bulan berikutnya, babak penyisihan resmi dimulai. Dari babak ini akan dipilih sepuluh pemenang, yang nantinya berhak menantang posisi sepuluh pendekar muda terbaik Kota Sungai Xiao yang baru.
Sementara itu, daftar peserta yang direkomendasikan juga akan diumumkan sebelum babak penyisihan berakhir.
Pengumuman semacam ini dipasang hampir di setiap sudut jalan dan gang di Kota Sungai Xiao. Rincian tentang kompetisi pun tertulis jelas pada pengumuman, membuat selembar kertas merah berukuran empat kaki kali dua kaki itu penuh dengan huruf-huruf hitam kecil yang rapat.
Dalam sekejap, suasana Kota Sungai Xiao menjadi jauh lebih semarak dari biasanya. Topik yang paling sering dibicarakan saat orang-orang bersantai di kedai teh atau bersantap tak lain adalah kompetisi akbar ini. Banyak yang iseng memprediksi peringkat sepuluh pendekar muda baru sebelum kompetisi dimulai. Sementara para pedagang yang cerdik bahkan mencetak buku panduan khusus tentang kompetisi, mengklaim telah mengumpulkan seluruh data pendekar muda di bawah usia tiga puluh tahun di Kota Sungai Xiao, lengkap dengan asal-usul, jurus andalan, serta senjata yang mereka gunakan. Tentu saja, buku panduan itu juga memuat prediksi peringkat.
Buku panduan yang hanya bertujuan menarik perhatian publik itu ternyata laris manis di Kota Sungai Xiao, semakin menambah bahan obrolan masyarakat. Entah data di dalamnya hasil rekaan para pedagang atau memang informasi yang sengaja dibocorkan oleh lima sekte besar, yang pasti, berkat dorongan buku kecil itu, meski kompetisi masih sepuluh bulan lagi, atmosfernya sudah terasa sangat panas.
Lin Yan juga melihat pengumuman yang tertempel di jalanan, lalu segera menuju alun-alun ramai pusat Kota Sungai Xiao.
Di tengah alun-alun, sebuah bangunan kayu telah didirikan sebagai tempat pendaftaran.
Bangunan kayu itu dikerumuni banyak orang, namun kebanyakan hanya datang untuk menonton. Peserta yang benar-benar masuk ke dalam untuk mendaftar sangatlah sedikit.
Alasannya sederhana.
Keramaian memang mengundang orang untuk melihat, tapi nyawa pun tak kalah berharga.
Tak ada syarat khusus untuk mengikuti babak penyisihan, siapa pun boleh mendaftar, tanpa perlu menunjukkan kemampuan atau membayar biaya apa pun. Satu-satunya yang harus dilakukan adalah menandatangani perjanjian hidup dan mati.
Meski banyak aturan dibuat untuk mencegah kematian atau cedera parah, tetap saja, adu fisik dan senjata tak pernah mengenal belas kasihan. Panitia jelas tak mau menanggung tanggung jawab terlalu besar, sehingga perjanjian hidup dan mati pun diwajibkan.
Kompetisi ini jelas bukan sekadar main-main. Begitu perjanjian ditandatangani, nasib hidup dan mati diserahkan pada takdir. Orang-orang biasa yang tak punya kemampuan bela diri, atau pendekar yang merasa dirinya belum cukup kuat, tentu tak mau mempertaruhkan nyawa.
Karena itu, hanya mereka yang benar-benar yakin dan merasa mampu saja yang berani masuk ke bangunan kayu untuk mendaftar.
Orang-orang yang menonton di luar hampir semuanya memegang buku panduan. Setiap kali ada pendekar masuk ke dalam, mereka akan mengamati wajahnya dengan seksama, membandingkan dengan foto-foto dalam buku, dan mendengarkan baik-baik suara di dalam. Begitu mendengar peserta menyebutkan namanya, mereka akan mencocokkan dengan daftar di buku. Jika nama itu ada, maka peserta tersebut akan langsung mendapat tatapan iri dan menjadi bahan perbincangan.
Saat Lin Yan masih berada di antara kerumunan, tak ada yang memperhatikannya. Namun ketika ia melangkah melewati orang-orang dan berjalan di atas karpet merah menuju bangunan kayu, perhatian masyarakat pun mulai tertuju padanya.
“Orang ini kelihatannya masih sangat muda, benarkah dia akan mendaftar?”
“Lihat, pakaiannya biasa saja dan tak membawa senjata. Jangan-jangan dia hanya panitia pendaftaran?”
“Panitia masuk dari belakang, karpet merah ini khusus untuk peserta. Sudah pasti dia mau mendaftar. Lihat wibawanya, mungkin dia memang pendekar muda yang hebat.”
“Ayo cepat cari di buku panduan, ada tidak namanya? Tapi, rasanya aku sudah berkali-kali membaca bukunya, kok tak ingat ada pendekar muda setampan ini?”
Peserta yang mendaftar hanya muncul tiap setengah jam, atau bahkan satu jam sekali. Maka, kemunculan Lin Yan pun segera menarik perhatian.
Di dalam bangunan kayu.
“Namamu?”
“Lin Yan.”
“Usia?”
“Tujuh belas.”
“Hah?” Petugas pendaftaran paruh baya yang duduk di tengah-tengah meja mengangkat kepala, menatap Lin Yan dengan rasa ingin tahu, lalu bertanya lagi, “Benar tujuh belas?”
Lin Yan mengangguk.
Petugas itu masih tampak ragu. “Benar-benar mau ikut babak penyisihan? Sudah membaca semua aturan di pengumuman? Anak muda harus berpikir matang. Begitu perjanjian hidup dan mati ditandatangani, sebulan lagi kau sudah harus naik ke atas arena. Kalau menyesal pun sudah terlambat.”
“Aku sudah memikirkannya,” jawab Lin Yan sambil tersenyum, memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.
Petugas itu tidak menasihati lebih lanjut, melainkan mengeluarkan formulir dan menyerahkannya kepada Lin Yan. “Isi saja data lengkapmu, selebihnya sudah dijelaskan di pengumuman, tinggal ikuti saja.”
“Hei, anak muda, kenapa kolom asal sekte tidak diisi?” Petugas itu kemudian sadar pena Lin Yan langsung melewati kolom asal sekte, lalu mengingatkan.
“Aku tidak punya sekte,” jawab Lin Yan datar.
Saat itu, kerumunan di luar bangunan kayu langsung ribut.
“Lin Yan? Tak pernah dengar nama itu, di buku panduan pun tidak tercatat. Ada apa ini?”
“Benar, peserta sebelumnya semuanya ada di buku, lengkap dengan penjelasan. Jangan-jangan dia cuma coba-coba, bukan pendekar muda hebat?”
“Tadi dia bilang sendiri tidak punya sekte. Kuharap dia bukan cuma anak bodoh yang nekat datang.”
Orang-orang pun segera mengingat nama Lin Yan, si pemuda aneh yang dianggap sok berani tanpa tahu diri.
Di dalam, petugas pendaftaran pun berpikiran serupa. Ia bersiap untuk menasihati Lin Yan agar membatalkan niatnya, namun tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakang.
“Paman Wang, biarkan saja dia mendaftar.”
Petugas pendaftaran bermarga Wang itu dikenal berhati lembut. Mendengar suara bernada sinis itu, ia hampir saja berdiri untuk memprotes, namun ketika menoleh dan melihat siapa yang datang, kata-kata yang hendak ia ucapkan tertahan di tenggorokan. Wajahnya pun langsung berubah ramah.
“Selamat datang, Tuan Muda.”
Yang datang adalah Qing Feng.
Petugas Wang hanyalah penjaga perpustakaan kitab di Gerbang Qing Wu, posisinya tak tinggi. Mendapat sapaan Tuan Muda dari Qing Feng saja sudah cukup membuatnya terhormat. Meski tak punya kuasa, ia tak bodoh. Ia tahu, Qing Feng sedang memperingatkannya agar tak ikut campur.
Maka, petugas Wang pun segera berdiri dan memberikan kursi utamanya pada Qing Feng, lalu menyingkir ke samping tanpa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Lin Yan dengan rasa iba, menghela napas dalam hati.
Pasti pemuda bernama Lin Yan ini telah menyinggung Tuan Muda Qing Feng, hingga membuatnya ikut campur.
“Qing Feng, kau rupanya?”
Tak seperti dugaan petugas Wang, Lin Yan hanya melirik Qing Feng sekilas, menyapa singkat, lalu kembali mengisi formulir tanpa ragu, seolah sudah bulat tekad untuk mendaftar.
“Melihat orang terbunuh sudah biasa, tapi baru kali ini melihat ada yang senang ingin dibunuh. Lin Yan, kau kira kompetisi lima tahunan ini hanya main-main? Bisa-bisa mati, tahu!”
Ucapan Qing Feng jelas bukan untuk memperingatkan, melainkan mengejek kebodohan Lin Yan.
“Begitukah? Memang begitu adanya, tinju dan pedang tak pernah kenal ampun,” jawab Lin Yan tenang, seolah kompetisi itu sama sekali tak ada hubungannya.
Sebagian besar penonton di luar mengenal Qing Feng. Melihat Lin Yan yang tak dikenal bisa berbicara tenang dengan Tuan Muda Gerbang Qing Wu itu, mereka pun terkejut.
“Mungkin kita semua salah, pemuda bernama Lin Yan ini pasti punya latar belakang hebat. Lihat saja, bisa membalas ucapan Tuan Muda Qing Feng dengan santai, pasti dia pendekar hebat.”
“Apa buku panduan melewatkan dia? Tapi, dari yang kulihat, Lin Yan memang berbeda, pasti punya kemampuan luar biasa.”
Tanpa sadar, kesan mereka pada Lin Yan pun berubah.
Di dalam, Qing Feng menyapu pandangan ke arah kerumunan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Tiba-tiba ia meninggikan suara, memastikan seluruh orang di alun-alun dapat mendengarnya.
“Huh, sudah diingatkan baik-baik, masih tak peduli. Tunggu saja, sebulan lagi di babak penyisihan, aku ingin lihat, seorang pendekar tingkat delapan Alam Bakat Alamiah bisa apa di arena!”
Ucapan ini membuat petugas Wang semakin berat menghela napas.
Sementara di alun-alun, diskusi pun makin ramai.
“Serius? Masih jauh dari Alam Transendensi, kok pede sekali mendaftar?”
“Tidak mungkin! Kudengar di Gerbang Qing Wu saja, pendekar muda dengan tingkat seperti itu ada ratusan, siapa pun bisa mengalahkan Lin Yan. Dari mana dia punya kepercayaan diri?”
Meski kebanyakan dari mereka bukan pendekar, masyarakat paham tingkatan kekuatan dalam dunia bela diri. Begitu mendengar ucapan Qing Feng, mereka pun mengerti, pendekar tingkat delapan Alam Bakat Alamiah yang ikut kompetisi seluruh kota, jangankan lolos ke babak akhir, mungkin babak pertama pun tidak bisa dilewati!
Kompetisi lima tahunan ini adalah pertarungan para pendekar kuat. Peserta memang sedikit, tapi rata-rata sudah mencapai Alam Transendensi, atau setidaknya tingkat sembilan Alam Bakat Alamiah. Sedangkan Lin Yan, selain tak cukup kuat, masih muda, pengalaman pun pastilah kurang, bahkan tak punya sekte yang mendukung!
Bisa-bisanya mendaftar sendirian, kalau bukan nekat, apalagi?
Lin Yan lalu menoleh ke alun-alun, melihat reaksi orang banyak, namun tak menunjukkan emosi. Ia meletakkan pena, lalu berkata ringan, “Ini sudah jadi keputusanku. Terima kasih atas peringatanmu, Kakak Qing Feng.”
Setelah itu, ia tersenyum kepada petugas Wang, “Sudah saya isi semua.”
Raut wajah Qing Feng berubah gelap. Ia seolah berpikir mengapa Lin Yan berani mendaftar, namun segera tersenyum dengan ekspresi puas.
“Huh, kalau memang kau sendiri yang cari mati, jangan salahkan siapa-siapa! Meski aku sudah berjanji pada Adik Shuang Xue untuk tidak menyentuhmu, tapi saat babak penyisihan, menyuruh beberapa orang ‘mengurusmu’ itu perkara mudah, haha.”
Demikian pikir Qing Feng, lalu berkata pada petugas Wang, “Paman Wang, Lin Yan sangat ingin ikut babak penyisihan, ingin menunjukkan kemampuannya di ajang kali ini. Tolong, pastikan data pendaftarannya dicek dengan cermat, dan pastikan dia benar-benar bisa ikut.”
Setelah berkata demikian, Qing Feng pun melangkah pergi dari belakang bangunan kayu dengan penuh kemenangan.
Petugas Wang menatap Lin Yan, menghela napas dan menggeleng pelan, lalu mengambil formulir di atas meja, memeriksanya dengan seksama, dan akhirnya membubuhkan cap merah menyala bak darah.
“Lin Yan, pendaftaranmu sudah selesai. Semoga beruntung.”
Lin Yan membungkuk hormat, lalu berjalan di atas karpet merah, keluar dari bangunan kayu ke alun-alun, tanpa mempedulikan bisik-bisik mengejek, mencemooh, atau menyesali dari orang-orang, dan terus melangkah ke depan.