Bab Tambahan Dua: Luka Parah
Odon dan para prajuritnya telah memperoleh sesuatu dari bagian kapal ini: sebuah peti pendingin embrio.
Namun, karena menganggap pencarian berarti menemukan barang berharga, Odon belum merasa puas. Ia memerintahkan beberapa prajurit memilih bijih-bijih bernilai dari ruang kargo dan membawanya kembali ke kapal pengangkut pasukan.
Bersama prajurit yang tersisa, ia menuju area awak dan ruang kendali.
Ketika melewati ruang isolasi di balik pintu luar tempat mereka masuk, Odon menyadari ada sesuatu yang janggal. Ke mana perginya beberapa prajurit yang ia perintahkan untuk berjaga?
Ia menanyai para prajurit yang baru saja mengangkut bijih dan peti pendingin, tetapi semuanya menjawab bahwa mereka tidak menyadari apa pun.
Hal itu membuat Odon naik pitam.
“Dasar sampah! Begitu melihat barang berharga, kalian melupakan segalanya.”
Ia menduga para prajurit itu telah menemukan sesuatu yang aneh lalu pergi ke bagian depan kapal. Odon tidak melihat mereka sama sekali di area kargo belakang.
Apa otak mereka bermasalah? Kalau terjadi sesuatu atau menemukan kejanggalan, bukankah mereka bisa melaporkannya lewat komunikasi? Tunggu sampai aku kembali. Akan kuberi kalian pelajaran.
“Kalian berlima tetap berjaga di sini. Jika menemukan sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan. Jika ada bahaya, langsung serang tanpa menunggu perintahku. Pastikan tempat ini tetap bisa menjadi jalur bagi yang lain untuk mundur jika mereka berada dalam bahaya.”
Perasaan tidak enak di hati Odon semakin kuat. Ia sendiri tidak mengerti mengapa tiba-tiba memberi perintah seperti itu.
Seorang prajurit membuka pintu kedap udara menuju area awak.
Odon membawa pasukannya masuk dengan hati-hati. Indikator di dalam helm menunjukkan bahwa udara di sana sangat layak dihirup. Mereka bahkan tidak perlu mengenakan helm; udara di area itu lebih baik daripada udara yang sedikit tipis di ruang kargo.
Seorang prajurit dengan hati-hati menanggalkan helmnya.
Tidak terjadi apa-apa, tetapi Odon menatapnya tajam. Berdasarkan peraturan Kekaisaran, selama operasi tempur setiap prajurit wajib tetap mengenakan zirah demi mengurangi risiko, meskipun tempat ini bukan garis depan.
Mereka berjalan di lorong panjang berbentuk segi enam. Karena kepadatan udara cukup tinggi, sepatu bot tempur para prajurit menghantam lantai keras dan menimbulkan gema berulang.
Pada awalnya, Odon tidak merasa ada yang aneh. Ia memeriksa area awak. Kabin-kabin di sana tampak bersih dan tidak memiliki sesuatu yang istimewa.
Namun, ke mana semua awak kapal pergi?
Para prajurit mekanis penjaga kapal berdiri di dalam kotak-kotak paduan logam yang menyerupai lemari, tertanam satu per satu di dinding kabin. Semuanya dalam keadaan mati dan belum diaktifkan. Jelas, kapal itu sama sekali tidak sedang berada dalam kondisi pertahanan.
Lambat laun Odon menyadari ada yang tidak beres. Para prajurit yang sebelumnya ia kirim ke bagian depan kapal belum juga mengirim kabar. Tidak terdengar suara apa pun—baik langkah kaki maupun suara komunikasi.
Ia segera memanggil mereka, tetapi alat komunikasi hanya mengeluarkan suara berdesis tanpa jawaban.
Mustahil lima puluh atau enam puluh orang semuanya berada dalam keadaan seperti ini, bukan?
Prajurit Kekaisaran sangat tangguh. Terlebih lagi, pasukan Odon terdiri dari veteran yang telah berulang kali bertempur di garis depan. Bahkan menghadapi musuh tiga atau lima kali lipat jumlah mereka bukanlah masalah besar.
Di dunia ini, siapa yang mampu membunuh begitu banyak prajurit tanpa menimbulkan suara sedikit pun?
Meskipun sangat cemas, Odon tidak berani maju sembarangan. Ia memberi isyarat agar para prajurit di belakangnya waspada. Mereka menyebar, sementara Odon menempelkan tubuh ke dinding lorong dan bergerak perlahan ke depan.
Ketika melewati sebuah kabin awak, Odon melihat sesuatu yang aneh melalui pintu yang terbuka.
Pemandangannya sangat mengerikan. Lantai dipenuhi serpihan daging segar. Di sampingnya berserakan pecahan besar zirah milik prajurit Kekaisaran. Senapan energi pun patah menjadi beberapa bagian.
Pada dinding kabin terdapat lubang aneh dengan potongan yang sangat halus. Jika tidak diamati dengan cermat, orang mungkin mengira lubang itu memang bagian dari desain kapal.
Prajurit-prajuritnya telah dibunuh tanpa sempat mengirim laporan atau melancarkan serangan, tanpa suara sedikit pun.
Odon hampir kehilangan kendali. Mereka adalah prajurit yang telah mengikutinya melewati hidup dan mati.
Ia menemukan pemandangan serupa di beberapa kabin berikutnya. Sebagian kabin memang dipenuhi sisa-sisa tubuh, tetapi tidak ada pecahan zirah. Jelas, korban-korban itu bukan anggota pasukannya, melainkan awak kapal eksplorasi tersebut.
Punggung Odon terasa dingin. Nalurinya menyuruhnya segera meninggalkan tempat itu, tetapi ia tidak tega meninggalkan para prajurit yang dibawanya. Mungkin masih ada yang selamat.
Selain empat puluh prajurit yang kini bersamanya, seluruh area awak telah benar-benar sunyi.
Melalui helmnya, Odon memandang lorong di depan. Jarak menuju ruang kendali kurang dari dua puluh meter. Di bawah cahaya pucat, wajah Odon yang biasanya tegar dipenuhi keringat dingin. Keringat itu mengalir perlahan di pipinya, lalu segera diserap dan dikeluarkan oleh sistem penunjang kehidupan pada zirahnya.
Odon memperkirakan ada lebih dari tiga puluh prajurit yang telah diserang benda yang sama di berbagai kabin, lalu meledak menjadi serpihan tubuh.
Dengan demikian, lebih dari sepuluh prajurit lainnya seharusnya telah memasuki ruang kendali.
Kini Odon tidak ingin masuk ke sana. Namun, jika ada prajurit yang masih hidup dan ia tidak pergi menyelamatkan mereka, sebagai komandan ia akan dihukum oleh hukum militer.
Ia mengertakkan gigi dan melewati beberapa kabin yang tertutup. Dari layar pada kunci pintu, ia dapat melihat bahwa tidak ada orang yang masuk ke dalamnya, jadi ia langsung melewati semuanya.
Akhirnya mereka tiba di depan pintu menuju ruang kendali. Pintu itu telah terbuka kuncinya. Berarti para prajurit di depan telah masuk lebih dulu.
Setelah ragu sejenak, Odon menekan sakelar pintu ruang kendali. Pintu itu terbuka secara otomatis. Namun Odon dan pasukannya tidak langsung masuk. Tak lama kemudian, pintu tersebut menutup kembali dengan bunyi keras.
Dalam waktu singkat ketika pintu terbuka, Odon mengintip dari samping. Ruangan itu tampak kosong.
Ia kembali menekan sakelar. Pintu terbuka lagi. Odon melesat masuk, diikuti sepuluh prajurit yang bergerak menyebar ke kedua sisi pintu. Kerja sama mereka selama bertahun-tahun membuat gerakan itu berlangsung sangat rapi.
Odon menyapu ruangan dengan pandangan.
Ruang kendali kapal eksplorasi itu sangat luas, mencerminkan kemewahan perusahaan keluarga. Dibandingkan ruang kendali kapal perang yang biasanya sempit dan ringkas, tempat ini benar-benar mewah hingga sulit dilukiskan.
Setelah energi cadangan pulih, konsol kendali yang besar telah menyala. Banyak data berkelap-kelip di layar-layar yang muncul. Kualitasnya tidak kalah dari kapal perang, bahkan data pemindaiannya jauh lebih lengkap.
Namun, pemandangan berikutnya hampir membuat Odon yang telah lama bertempur muntah.
Di depan kursi-kursi kendali, ruang yang tidak terlalu luas itu dipenuhi serpihan daging. Darah keemasan pucat masih belum membeku dan telah menggenang di lantai cekung di depan konsol.
Odon bahkan tidak berani maju untuk memeriksanya. Lantai itu tertutup lapisan tebal sisa tubuh. Jika ingin mendekat, ia harus menginjak “tubuh” saudara-saudaranya sendiri.
Makhluk macam apa yang telah melakukan semua ini?
Mata Odon memerah. Prajurit-prajurit itu ia bawa keluar dari medan perang. Mereka adalah saudara seperjuangannya. Beberapa bahkan pernah menyelamatkan nyawanya, dan ia pun telah menyelamatkan banyak dari mereka. Selama bertahun-tahun, mereka makan, tidur, dan bertempur bersama. Lima puluh atau enam puluh orang telah tewas di tempat ini hanya dalam waktu singkat.
Meskipun hampir menjadi gila, akal sehatnya mengatakan bahwa para prajurit yang tersisa harus segera kembali ke kapal pengangkut pasukan, lalu kembali ke kapal induk. Jika tidak, mereka semua mungkin kehilangan nyawa di tangan makhluk iblis yang sedang mengamuk tanpa diketahui asalnya.
Jangan-jangan benar-benar ada iblis yang turun ke dunia?
Odon segera memerintahkan para prajurit di belakangnya untuk mundur keluar dari kapal.
Namun, ia sendiri melangkah hati-hati di atas serpihan daging menuju konsol. Ia ingin mengetahui makhluk apa yang telah membunuh begitu banyak saudaranya tanpa alasan yang jelas. Sambil menahan rasa takut, ia mengisi senapan energinya hingga daya penuh. Senjata itu bergetar halus di tangannya, seolah mencerminkan kegelisahan hatinya.
Di atas konsol terdapat sebuah kotak kecil. Tutupnya telah terbuka. Di dalamnya tersusun rapi tiga baris kristal biru, masing-masing berjumlah delapan dan seukuran kuku jari. Kristal-kristal itu memancarkan kilau jernih di bawah cahaya lampu.
Ini adalah sumber ilahi!
Namun, tempat yang lebih besar di bagian tengah kotak itu kosong. Berdasarkan ukuran tempatnya, kristal yang sebelumnya diletakkan di sana setidaknya sebesar bola mata. Ini jelas satu set sumber ilahi.
Odon menutup kotak tersebut lalu memasukkannya ke ruang penyimpanan di sisi paha zirahnya—tempat yang semula digunakan untuk menyimpan senjata pribadi.
“Hm, apa ini?”
Odon memungut benda aneh dari atas konsol. Benda itu tampak seperti serangga yang meringkuk, dengan tujuh atau delapan tentakel melingkari sesuatu yang kecil, mirip sepotong sumber ilahi.
Apakah ini makhluk yang memakan sumber ilahi, atau semacamnya?
Namun, serangga di tangan Odon tampaknya telah kehilangan vitalitas. Ia tidak bergerak sama sekali.
Mungkin benda ini berharga.
Melihat sesuatu yang baru dan aneh, sifat tamaknya kembali muncul. Odon menoleh ke sekeliling. Karena tidak melihat bahaya apa pun, ia memasukkan benda itu ke ruang penyimpanan.
Ia menyusuri konsol dan menemukan dua benda serupa lagi di lantai tidak jauh dari sana. Meskipun berada di antara serpihan daging dan genangan darah, benda-benda itu sama sekali tidak ternoda ketika diambilnya. Ia segera menyimpan keduanya.
Ketika hendak memeriksa tempat lain, tiba-tiba ia mendengar suara dari para prajurit yang telah mundur ke lorong. Suara itu terdengar seperti jeritan kesakitan.
Odon langsung tersadar. Apakah sesuatu kembali terjadi?
Ia semula ingin memeriksa catatan penerbangan kapal eksplorasi, tetapi kini tidak sempat lagi. Ia mengangkat senapan energi dan berlari menuju lorong untuk melihat keadaan para prajurit.
Namun, ia lupa bahwa lantai dipenuhi serpihan daging dan darah.
Dalam sekejap, ia terpeleset dan jatuh.
Dari celah pintu yang setengah tertutup, Odon melihat seberkas cahaya lengkung hitam bergerak di antara para prajurit pasukannya yang telah mundur ke lorong.
Setiap kali melewati seorang prajurit, prajurit itu akan tertegun sejenak, lalu tubuhnya meledak menjadi serpihan daging dan darah. Setelah itu, cahaya hitam tersebut melesat menuju prajurit lain yang telah membeku ketakutan.
Para prajurit itu berdiri diam seperti orang-orang yang terkena kutukan iblis, menunggu untuk dipanen dan dihancurkan menjadi serpihan.
Hanya dalam beberapa menit, hampir empat puluh prajurit di luar telah lenyap tanpa tersisa.
Odon merasa seolah-olah dirinya juga sedang dibidik oleh penyihir paling kejam. Ia ketakutan hingga tidak mampu bergerak. Tubuhnya tetap terbaring di lantai, berlumuran darah para prajuritnya.
Cahaya lengkung hitam itu tampaknya belum puas, atau mungkin sedang marah. Ia bergetar ringan di udara.
Tiba-tiba, cahaya itu melesat lurus ke ruang kendali. Ia tidak masuk melalui celah pintu, melainkan menembus pintu secara langsung, meninggalkan lubang seukuran telapak tangan yang menyerupai bentuk serangga merayap.
Seolah-olah sedang memilih makanan, atau mengamati mangsanya, cahaya itu mengitari Odon sekali.
Kemudian ia menukik tajam dan menembus tubuh Odon. Rasanya seperti menyusup ke dalam tanah berlumpur. Zirah yang kokoh dan tebal seolah tidak ada sama sekali.
Rasa sakit yang luar biasa segera menyebar. Odon merasa dirinya akan meledak menjadi serpihan daging seperti para prajuritnya.
Ia bahkan belum menikah dan belum menikmati kehidupan duniawi. Apakah ia benar-benar akan mati seperti ini? Ia tidak rela!
Ketika rasa sakit semakin parah, kepalanya terkulai dan ia kehilangan kesadaran.
Cahaya lengkung itu bergerak seperti serangga di sepanjang punggung Odon. Bagian yang dilewatinya langsung robek dan menganga. Bahkan dalam keadaan tidak sadar, Odon sesekali mengerang kesakitan.
Akhirnya, cahaya itu berhenti di pergelangan tangan kirinya, lalu berubah menjadi pola hitam bercabang tujuh yang menempel di bagian atas pergelangan tangannya.
Entah berapa lama kemudian, Odon terbangun karena rasa sakit yang kembali menusuk.
Ia merasa seolah-olah akan mati. Darah yang membasahi tubuhnya entah miliknya sendiri atau milik para prajuritnya di lantai. Zirah di punggungnya telah berlubang, tetapi untungnya udara di tempat itu masih dapat digunakan untuk bernapas.
Sambil menahan rasa perih membakar di punggung dan lengan kirinya, ia berusaha meninggalkan tempat itu. Namun saat itu ia merasa lantai seolah bergetar. Seakan ada sesuatu yang terhubung dengan dirinya dan terus membesar di dalam kesadarannya.
Dengan langkah sempoyongan, ia berlari keluar dari ruang kendali dan bersandar pada dinding lorong. Ia membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk tiba di dekat ruang isolasi pintu luar.
Untungnya, lima prajurit yang sebelumnya ia tinggalkan masih berada di sana. Mereka sedang memandang sekeliling dengan panik. Begitu melihat keadaan Odon yang mengenaskan, mereka segera datang untuk menopangnya.
Odon hanya sempat berkata, “Segera kembali.”
Setelah itu, ia kembali kehilangan kesadaran.