Bab 31 Kekhawatiran Zhao Nan
“Ha-ha, seratus tael perak, ya? Sejak kapan Tuan Liu jadi begitu pelit?”
Saat Zhao Nan tengah tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar suara tawa merdu dari arah pintu, bersamaan dengan suara pintu yang didorong terbuka seseorang.
Zhao Nan sempat tertegun, bertanya-tanya siapa gerangan yang kini membela dirinya. Namun kemudian ia teringat pada seseorang dan segera menoleh. Benar saja, orang itu adalah Yan Mingsyuan!
Dalam hatinya Zhao Nan bertanya-tanya, “Mengapa Mingsyuan bisa ada di sini?”
Kemudian ia melihat di belakang Yan Mingsyuan ada seorang perempuan paruh baya, kira-kira berusia lebih dari empat puluh tahun. Wajah perempuan itu sudah memperlihatkan banyak keriput di sudut matanya, menandakan ia tak lagi muda, namun dari penampilan mudanya, pasti dulu ia juga seorang perempuan yang cantik.
Wanita paruh baya itu masuk, terlebih dahulu memberi hormat kecil pada Liu Zhiyuan, lalu berkata, “Tuan.”
Setelah itu ia menatap Zhao Nan, dan seketika ia tampak terkejut dan terpukau—penampilan dan aura pemuda ini adalah yang terbaik yang pernah ia jumpai selama hidupnya. Sayangnya usianya sendiri sudah terlalu tua, kalau tidak...
Begitu pikiran ini melintas, ia segera waspada dan menegur dirinya sendiri, “Sudah setua ini, masih saja tergoda oleh pemuda tampan, sungguh memalukan.” Ia pun memalingkan pandangannya dari Zhao Nan, memaksa diri untuk tidak melihatnya lagi.
Perlahan-lahan, hatinya pun menjadi tenang.
Sementara itu, Yan Mingsyuan sejak pertama masuk hanya melirik sekilas pada Liu Zhiyuan tanpa menyapa, dan sejak itu matanya tak henti-hentinya memandang Zhao Nan, seakan ada benang halus yang mengikat pandangannya.
Wanita paruh baya itu, yang tak lain adalah istri Liu Zhiyuan, menyadari hal itu dan buru-buru mencubit ujung baju Yan Mingsyuan, mengisyaratkan agar ia menjaga sikap.
Yan Mingsyuan pun menyadari isyarat itu, sadar bahwa di hadapan orang luar ia tak bisa terus-terusan menatap Zhao Lang.
Pada saat itu, Liu Zhiyuan yang sempat terpana, segera berdiri dan hendak berlutut memberi hormat pada Yan Mingsyuan. Namun sang istri segera berdeham kecil.
Liu Zhiyuan pun seketika tersadar dan terkejut, teringat bahwa wanita ini memang suka berbaur di tengah masyarakat, namun enggan membuka identitas aslinya. Jika ia sampai salah bicara, bukankah ia akan merusak rencana wanita ini?
Dengan paksa, Liu Zhiyuan menahan ucapan yang hampir meluncur dari mulutnya, lalu cepat-cepat mengganti dengan, “Nyonya, sungguh bersemangat sekali hari ini, apa gerangan yang membuat Anda berkunjung ke toko buku kami? Hehe, hehe...” Ia berusaha tersenyum untuk menutupi rasa canggung.
“Aku hanya merasa, cerita sebagus ini jarang sekali ditemui, jadi ketika tadi mendengar harga yang ditawarkan Tuan Liu, aku tak tahan untuk menyela. Semoga Tuan Liu tak merasa tersinggung.”
Liu Zhiyuan buru-buru menjawab, “Ah, tidak, tidak, justru setelah Anda berkata begitu, saya pun semakin merasa cerita ini memang istimewa, baru, dan melampaui zamannya!
Begini, saya putuskan, tiga—tidak, lima ratus tael perak untuk satu jilid.” Ia menoleh pada Zhao Nan, lalu bertanya hati-hati, “Bagaimana menurut Tuan Zhao? Apakah harga ini sudah pantas?”
Mendengar naskah bukunya naik harga dari seratus tael menjadi lima ratus tael hanya karena beberapa kalimat Yan Mingsyuan, Zhao Nan benar-benar terkejut. Harga ini benar-benar luar biasa!
Lagipula, jilid pertama dari “Kisah Manusia Mencari Kesaktian” ini hanya ia tulis dalam beberapa hari. Jika dalam beberapa hari saja ia bisa mendapatkan lima ratus tael, dan jika ia menyelesaikan dua jilid berikutnya, berarti ia akan mendapat total seribu lima ratus tael sebagai honoraria.
Tentu saja, Zhao Nan sadar Yan Mingsyuan sedang membantunya. Ia pun tidak akan menolak niat baik itu. Lagi pula, Yan Mingsyuan sudah dianggap sebagai wanitanya, jadi jika istrinya sendiri membantunya, bukankah itu sudah sepantasnya?
Maka Zhao Nan pun berkata, “Jika Tuan memutuskan lima ratus tael, maka jadilah lima ratus tael.”
Mendengar kepastian dari Zhao Nan, wajah Liu Zhiyuan pun tersenyum lega. Untung saja Tuan Zhao tidak menaikkan harga lagi. Jika ada wanita itu di sana dan harga naskah melebihi nilainya, toko buku ini bisa saja merugi.
Selanjutnya, Liu Zhiyuan berkata, “Kalau begitu, mari saya antar Tuan ke ruang kasir untuk mengambil peraknya.”
Zhao Nan pun bertanya heran, “Bukankah masih harus menandatangani kontrak dulu?”
Liu Zhiyuan menjawab, “Ambil peraknya dulu, nanti kita tanda tangani kontraknya.”
Dalam hati, Zhao Nan merasa harus berterima kasih pada Yan Mingsyuan. Dengan kehadirannya, kontrak bisa ditandatangani setelah mengambil uang, padahal biasanya harus teken kontrak dulu baru dapat bayaran.
Di kehidupan sebelumnya pun demikian.
Akhirnya, Zhao Nan mengikuti Liu Zhiyuan ke ruang kasir, menerima lima ratus tael perak, dan bahkan diberi selembar kain pembungkus untuk membawanya. Setelah itu, kontrak pun ditandatangani di tempat.
Setelah semua selesai, Zhao Nan menoleh ke arah pintu, namun tak melihat Yan Mingsyuan. Ia pun berpikir, itu wajar, karena hubungan mereka belum diumumkan ke publik, dan Yan Mingsyuan yang sudah berusia di atas tiga puluh pasti sudah bersuami, jadi tidak pantas jika hubungan mereka diumumkan.
Diam-diam Zhao Nan berpikir, “Tak disangka, aku ternyata menyukai istri orang, ya?”
Sambil menyindir dirinya sendiri, sebenarnya ia tahu, selama wanita itu cantik, ia tak akan menolak.
Menurutnya, tak ada yang salah dengan itu. Bukankah di zaman kuno ini pria boleh punya beberapa istri dan selir? Lagi pula, ia punya kemampuan, kenapa tidak dimanfaatkan? Kalau tidak, bukankah bodoh namanya?
Setelah kontrak selesai, Zhao Nan pun berpamitan pada Liu Zhiyuan, lalu keluar dari toko pusat Toko Buku Kaiye.
Sesampainya di penginapan “Yingkelai”, Zhao Nan kembali ke kamar, kini di dalam buntalannya tersimpan lima ratus tael perak. Ia pun bersiap untuk pulang ke Desa Xiake di Kabupaten Yuancheng.
Namun, ia merasa tak tenang meninggalkan perak sebanyak itu di kamar penginapan. Tapi jika membawanya pergi ke kantor bupati untuk menemui Xiao Lin dan memberitahukan bahwa ia akan pulang, ia juga kurang tenang. Membawa uang sebanyak ini di jalan, kalau terjadi sesuatu atau bertemu pencopet, bukankah honor menulisnya akan hilang sia-sia?
Zhao Nan berpikir keras di kamar, dan akhirnya memutuskan untuk tetap meninggalkan perak itu di kamar. Toh, di lantai dua ada pelayan yang berjaga, dan sebelumnya kamarnya juga aman-aman saja. Masa kali ini akan terjadi apa-apa?