Bab Lima Puluh Lima: Bulan Madu
Dengan punggung menghadap Inspektur Lei, Ye Chunhao meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati. Di belakangnya terdengar suara kain bergesekan, menandakan Inspektur Lei masih sibuk melepas pakaiannya. Ia tak tahu sampai sejauh mana lelaki itu sudah menanggalkan busananya—bagaimanapun juga, kali ini ia sudah tak punya alasan lagi untuk mencegah atau mengusirnya.
Apa pun yang ingin dilakukan lelaki itu terhadapnya, kini sudah menjadi sesuatu yang wajar, seolah memang seharusnya demikian.
Di saat itu, Inspektur Lei tiba-tiba memanggil namanya, “Chunhao.”
Ia menundukkan kepala, berbalik perlahan. Inspektur Lei sudah melepaskan jubah panjang dan baju luarnya, tinggal celana dan atasan sutra yang menempel di tubuh. Ia melompat ke atas ranjang tanpa alas kaki, lalu melambaikan tangan, “Kemari, sudah waktunya tidur.”
Ye Chunhao mengiyakan pelan, mematikan lampu, hanya menyisakan sepasang lilin merah yang membakar perlahan. Dalam bayang-bayang di ujung ranjang, ia melepas qipao dan berganti baju tidur, lalu berjalan ke tepi ranjang dan duduk. Ia menoleh dan bertanya ragu, “Kamu tidur di sisi mana? Dalam atau luar?”
Inspektur Lei berguling ke sisi dalam ranjang, memberi tempat untuknya. Tingkahnya agak kekanak-kanakan, mengingatkan Chunhao pada malam ketika lelaki itu datang tanpa diundang dan ia menyangka pencuri hingga menamparnya. Ia tak bisa menahan senyum, kepanikan di hatinya perlahan mereda.
Ia mengangkat selimut, naik ke ranjang, lalu berbaring di tepi. Beberapa saat kemudian, sebuah tangan di bawah selimut meraih tangannya, menarik lembut, “Mendekatlah, hati-hati nanti kau terguling jatuh di malam hari.”
Ye Chunhao menuruti, bergeser sedikit demi sedikit, sampai akhirnya tangan itu memeluk pundaknya dan membalikkan tubuhnya, membuatnya berhadapan dengan Inspektur Lei. Cahaya lilin merah terlalu redup, ia menatap wajah lelaki itu—alis, mata, hidung, bibir—semuanya persis seperti yang ia ingat, tak berubah sedikit pun.
Tampaknya pernikahan ini benar-benar nyata, tanpa tipu daya.
Ia menatap Inspektur Lei, lelaki itu pun menatapnya. Setelah beberapa saat, ia tersenyum dan berkata, “Matamu sungguh muda.”
Lalu ia tertawa, “Salah, kamu memang muda. Bagus juga masih muda, supaya beberapa puluh tahun lagi kita jadi tua bersama.”
Ye Chunhao menunduk, melarang lelaki itu terus menatapnya, “Siapa juga yang mau dengar omonganmu…” gumamnya pelan, malu-malu, suaranya makin lirih, “Tua sekali…”
Inspektur Lei mendekat, menatap matanya, “Apa aku sudah tua?”
“Kamu…” Ye Chunhao makin malu, makin dipandang makin ia menghindar, lalu membalik badan, menyembunyikan wajah di lengannya, “Semakin kamu dibahas, semakin semangat saja.”
Inspektur Lei memegang pundaknya, “Katakan, menurutmu aku sudah tua?”
Ye Chunhao menarik satu tangan, mendorong pelan, “Menuju tua saja masih jauh!”
“Andai aku sepuluh tahun lebih muda, pasti lebih cocok denganmu.”
Ye Chunhao menarik tangannya kembali, tertawa pelan, “Aku tak mau, aku hanya mau kamu yang sekarang.”
Inspektur Lei menopang tubuh dengan siku, satu tangan di bawah selimut, membelai punggungnya dengan penuh minat, “Kenapa?”
Ye Chunhao menoleh, memandangnya, “Kamu yang sekarang saja sudah cukup manja, kalau mundur sepuluh tahun pasti makin nakal, aku tak sanggup.”
Lalu ia menarik lengan lelaki itu, “Ayo tiduran yang benar, di luar selimut dingin.”
Tak disangka, Inspektur Lei benar-benar seperti tak bertulang. Begitu ia tarik pelan, lelaki itu malah menindih tubuhnya. Satu tangan merambat masuk ke bawah tubuhnya, membelai, mencengkeram, memijat, menggoda dengan lembut. Ia berusaha membalik badan untuk menghindar, namun pada detik itu juga, lelaki itu sudah menindihnya.
Kecupan hangat dan dingin mendarat di bibirnya. Bibirnya basah dan panas, menahan ciuman itu seolah menahan setitik salju. Ia kembali merasakan dingin dan rapuh dari tubuh lelaki itu, sehingga spontan ia memeluknya erat.
Kali ini, pelukannya benar-benar sah dan penuh keyakinan.
Keesokan pagi, Ye Chunhao seperti biasa bangun lebih awal.
Inspektur Lei masih tertidur pulas, jadi ia berusaha bergerak setenang mungkin agar tak mengganggu. Tapi saat tengah sibuk, ia sadar dirinya sedang bersenandung pelan lagu-lagu populer. Saat masuk kamar mandi dan melihat ke cermin, ia dapati rambutnya berantakan tapi wajahnya penuh senyum.
Ia menutup pintu kamar mandi rapat-rapat, mengisi air untuk mandi, hatinya penuh dengan kebahagiaan baru. Malam pengantin yang dulu membuatnya malu dan takut, akhirnya berlalu dengan tenang. Ternyata urusan itu pun mudah dilalui, walau ada rasa sakit, tapi tetap bisa ditahan, dan setelahnya mereka bisa saling memeluk penuh kehangatan hingga tertidur. Saat mengelap tubuh dengan handuk basah, ia menemukan bekas merah di bahu—bahunya putih bersih, sehingga bekas itu tampak mencolok. Itu hasil gigitan lelaki itu, yang memeluk dan menciumi dirinya lama sekali, tak peduli panas atau lelah. Baru kali ini Ye Chunhao tahu dirinya ternyata begitu dicintai.
Setelah rapi dan berdandan, ia kembali ke kamar, melihat Inspektur Lei masih meringkuk di balik selimut, lalu duduk di tepi ranjang, membungkuk dan memeluk lelaki itu beserta selimutnya, memeluk pelan dan mengecup pipinya. Setelah itu ia menoleh ke luar jendela, mendapati langit cerah tanpa awan—benar-benar awal musim semi yang indah.
Inspektur Lei di pelukannya tiba-tiba bergerak, menyipitkan mata menoleh padanya—menatap beberapa detik, lalu tersenyum dan kembali berbaring, “Istriku cantik sekali.”
Ye Chunhao geli mendengar ucapan itu, sambil tertawa menarik selimut, “Sudah bangun kok masih tidur? Ayo cepat bangun!”
Begitu selimut dibuka, terlihatlah Inspektur Lei yang telanjang bulat, membuat Chunhao buru-buru menutupnya kembali. Lelaki itu pun bersembunyi di balik selimut seperti orang mabuk, tertawa cekikikan.
Ye Chunhao kesal sekaligus geli, butuh usaha keras untuk membujuknya keluar dari selimut.
Setelah itu, ia tak betah duduk diam, bergegas ke kamar mandi menyiapkan air mandi, menyiapkan pakaian bersih untuk hari itu, dan merapikan ranjang yang berantakan—tengah-tengah merapikan, ia mendengar Inspektur Lei memanggil namanya dari kamar mandi. Ia pun segera masuk, mengambilkan sabun dan handuk, langkahnya ringan, berputar-putar di kamar seperti menari, sampai dirinya sendiri merasa seperti burung hong yang menari.
Setelah cukup berputar, ia mendudukkan Inspektur Lei di kursi depan cermin kamar mandi, lalu kedua tangannya berputar di atas kepala lelaki itu. Di bawah cermin ada meja rias panjang, penuh botol dan kotak kosmetik yang harum dan mahal—hanya minyak rambut saja ada tujuh atau delapan merek. Layaknya anak kecil mendandani boneka, Ye Chunhao terlebih dulu merapikan rambut pendeknya hingga rapi, lalu menggandengnya keluar, membentangkan kemeja, memakaikan satu per satu lengan. Inspektur Lei membiarkan dirinya dilayani, merasa damai dan bahagia, tak berkata apa-apa, hanya terus memandang dan tersenyum padanya.
Setelah lelaki itu rapi dan gagah, Ye Chunhao bertanya, “Sekarang aku sudah cukup baik padamu, kan?”
Inspektur Lei menarik lengan jasnya, “Satu hari baik padaku belum berarti apa-apa. Kalau seumur hidup kau begini, baru aku terima sepenuh hati.”
Ye Chunhao memiringkan kepala, tersenyum sambil mengejek, “Dasar nakal!”
Inspektur Lei menirukan gayanya, memiringkan kepala—kemudian tertawa dan cepat-cepat mencium bibirnya.
Setelah itu ia berdiri dan berkata, “Lihat, begini kan lebih baik. Sungguh kita membuang terlalu banyak waktu.”
Sepanjang hari itu, Inspektur Lei dan Ye Chunhao tak melakukan apa-apa, bahkan tak muncul di hadapan siapa pun.
Mereka berbaring berhadapan di ranjang, lama sekali berbisik-bisik. Dua puluh tahun hidup Ye Chunhao sebelumnya selalu lurus dan sederhana, tak ada kisah istimewa untuk diceritakan, tapi Inspektur Lei tumbuh dalam keluarga yang rumit, punya dua ibu dan satu adik tiri, sehingga masa kecilnya penuh cerita. Ye Chunhao tertawa mendengar kisah kenakalan masa kecil lelaki itu.
Di tengah obrolan, Inspektur Lei tiba-tiba terdiam. Ye Chunhao membuka tangan lelaki itu sambil tersenyum, “Siang-siang begini, mau apa?”
Lalu ia membalik badan mencoba kabur dari ranjang, “Tidak boleh, nanti saja kalau sudah gelap.”
Sambil tertawa dan menghindar, ia kembali dipeluk Inspektur Lei. Tak bisa apa-apa, ia bersiap-siap menahan diri sekali lagi—toh tidak terlalu sulit. Tapi siapa sangka, kali ini berbeda dengan tadi malam, Inspektur Lei ternyata tak kunjung selesai.
Ia sudah berkali-kali menahan, tapi tak juga berakhir. Tubuhnya naik turun di kasur empuk, seolah dihantam ombak, diangkat dan dibanting berkali-kali, membuatnya tak berdaya dan terbawa suasana. Dengan rona merah di pipi, ia mengerang dan memeluk leher lelaki itu erat-erat. “Bagaimana?” tanya lelaki itu. Ia tak menjawab. “Enak?” tanya lagi.
Ia memejamkan mata, merasa dirinya seolah dibawa ke puncak oleh lelaki itu, hingga jiwanya melayang menembus awan.
Ye Chunhao merasa, menikah memang indah.
Kehidupan pernikahannya sudah berlangsung lebih dari setengah bulan, tetap seindah hari pertama. Setiap malam Inspektur Lei tidur bersamanya, walaupun rayuan dan gurauan sudah berkurang, tapi ia justru semakin bergantung pada Ye Chunhao. Jika lelaki itu sudah naik ke ranjang sementara ia belum, lelaki itu akan cemberut, seolah marah karena diabaikan. Marah yang seperti itu justru membuatnya tambah sayang, sehingga apa pun pekerjaan yang belum selesai, pasti ia tinggalkan demi menemaninya.
Suatu hari, ia mencari lelaki itu dan kebetulan sedang rapat dengan para perwira. Entah membahas apa, tapi saat ia masuk, Inspektur Lei sedang membentak orang. Begitu menoleh dan melihatnya, wajah galak lelaki itu langsung melunak. Ia mundur selangkah, berkata, “Lanjutkan saja, aku tak ada urusan penting, nanti aku kembali.”
Setelah berkata begitu, ia pura-pura hendak pergi, tapi mendapati Inspektur Lei tak tahan untuk tersenyum.
Begitu lelaki itu tersenyum, ia pun tersenyum dan meliriknya sebelum menutup pintu dan pergi.
Belakangan, Bai Xuefeng menemuinya dan berkata, “Kami semua bilang, nanti istri harus selalu ikut bersama Komandan. Kalau ada istri, Komandan jadi tak pernah marah.”
Ye Chunhao merasa bangga, tapi wajahnya tetap tenang, “Kalian ini benar-benar suka bercanda.”
Bai Xuefeng menggeleng serius, “Ini tidak bercanda, kami semua bicara sungguh-sungguh. Kalau tidak percaya, tanya saja pada Lin Zifeng.”
Ye Chunhao tertawa, “Aku tak percaya Sekretaris Lin juga ikut-ikutan bicara seperti kalian.”
“Ibu, kami sungguh tidak bercanda. Coba saja tanya-tanya keluar, semua orang tahu Komandan menikah dengan istri yang luar biasa.”
Ye Chunhao masih tersenyum tipis, mendengar Bai Xuefeng memanggilnya “Ibu” berkali-kali. Ia tahu lelaki itu sengaja bersikap polos untuk mencari muka, tapi di sisi lain, ucapan itu membuat hatinya berbunga-bunga—tentu saja, kebahagiaan itu ia simpan dalam hati.