Bab Enam: Titik Balik
“Baginda benar, hamba memang terlalu tergesa-gesa! Jika Baginda tidak ada perintah lain, izinkan hamba keluar untuk menyelesaikan urusan!”
“Pergilah! Aku juga merasa lelah, seharian menonton permainan barbar, lalu harus mengurus Li You yang licik itu, sungguh melelahkan hati!” Usai berkata, Suiya berbalik dan masuk ke kamar tidurnya. Tinggallah Cheng Saier seorang diri di aula utama, lama ia tak beranjak, dalam hati berpikir: Memang, tidak ada yang bisa disembunyikan dari Kaisar ini. Sepertinya aku harus benar-benar menuntaskan urusan Pedang Iblis itu, barulah Baginda akan meniliku dengan cara berbeda. Soal penguasa klan ini, nanti saja dipikirkan. Cheng Saier menggeleng pelan sambil berjalan keluar, matanya menatap jejak darah panjang di lantai, teringat pada Li You yang baru saja diseret pergi, entah mengapa timbul sedikit penyesalan dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian...
“Hyah! Hyah!” Derapan kuda yang tergesa datang mendekat dari kejauhan.
Ternyata itu adalah He Ruomeng, di punggungnya bersandar seseorang yang tampak tertidur pulas.
He Ruomeng memacu kudanya melintasi padang rumput, rerumputan yang dilewati bergoyang tertiup angin. Karena keluarga He berasal dari Daerah Longyou, jaraknya cukup jauh dari kota. Jika tidak menempuh perjalanan siang dan malam, akan sangat lama tiba di tujuan. Demi segera mengantar An Minzhi, He Ruomeng tak pernah berhenti beristirahat.
“Kakak Meng, belum sampai juga?” Orang yang tertidur di belakang adalah An Minzhi, meski perjalanan terguncang, ia tidak merasa lelah, hanya terasa lesu saja. Dengan mata setengah terpejam, An Lushan mengucek matanya. Ia melihat sekeliling penuh dengan hamparan rumput, dari kejauhan samar terlihat pegunungan berlapis-lapis, sungguh pemandangan yang mengagumkan.
“Anak gunung, aku tak bisa mendengar ucapanmu sekarang. Masih cukup jauh dari Daerah Longyou. Kalau kau lelah, cubit saja punggungku!” Begitu He Ruomeng selesai bicara, An Minzhi pun langsung mencubit punggungnya dengan keras.
He Ruomeng terkekeh, “Aduh! Hoo...” Setelah turun dari kuda, ia melihat An Minzhi masih enggan turun dari punggung kuda, melainkan terpaku memandangi sekeliling, jelas keindahan negeri Tao membuatnya terpesona.
“Turunlah! Menurutku jarak ke Daerah Longyou masih cukup dekat, mungkin beberapa jam lagi kita sampai. Tak apa, aku bisa mengajakmu berkeliling, supaya kau tahu dunia ini bukan cuma ibukota yang indah! Hehe~”
An Minzhi yang berbadan besar sudah lebih dari seratus kilo beratnya, meski baru menginjak usia dua puluh tahun, di antara teman sebayanya ia paling kekar dan gagah. Ia berdiri tegak, mendongak ke langit, berkata, “Jika aku diberi kesempatan, pasti aku akan menembus awan, memandang segalanya dari atas, menjadi naga di antara manusia!”
“Bukan naga di antara manusia, kau itu kura-kura gemuk di antara manusia!” Terdengar suara mengejek, membuat An Minzhi naik pitam dan menginjak tanah.
“Siapa yang berani menjelek-jelekan aku dari belakang! Ayo, tunjukkan dirimu!” He Ruomeng yang mendengar suara itu terdengar polos, segera menarik An Minzhi dan berkata, “Minzhi, kalau dia tidak mau muncul, pasti dia takut kalah olehmu, makanya bersembunyi dan bicara di belakang, tak perlu kita layani orang seperti itu!”
“Kalah? Lihat pedangku!” Tiba-tiba seseorang muncul membawa pedang kayu pendek, langsung menerjang ke arah An Minzhi. He Ruomeng tersenyum miring, menatap An Minzhi yang tetap tak bergerak. Tubuh besar An Minzhi sama sekali tidak menghindar, pedang kayu itu menusuk dadanya tanpa terasa sakit sedikit pun.
Lalu, sebuah tendangan mendarat di dada orang itu, membuatnya terjungkal ke tanah dan lama tidak bangun.
“Haha! Anak kurus kering berani kurang ajar padaku, kukira sehebat apa kau! Hya!” An Minzhi hendak melanjutkan, tapi He Ruomeng segera menariknya mundur.
“Hari sudah malam, kita harus segera pulang. Jangan cari masalah lagi.” Saat itu, orang di tanah sudah menghilang.
“Huh, larinya cepat juga!” An Minzhi dengan bangga menatap kejauhan, hendak naik ke kuda, lalu melihat sebuah liontin giok di tanah, terukir huruf Shi. Mungkin milik orang tadi, An Minzhi tidak ambil pusing, langsung menyelipkannya ke lengan bajunya.
Sementara di kediaman pangeran, dua insan yang saling mencinta seharusnya tak terpisahkan, namun siapa sangka takdir berkata lain. An Su, di istana kota Luoxie yang jauh, justru tak ingat lagi siapa Ruomeng.
“Beberapa hari ini, bagaimana keadaanmu?” tanya Wang Zehu dengan ramah. An Su menatap Wang Zehu, merasa ada yang aneh, lalu mengernyit.
“Kalian tidak kenal aku? Apa kalian benar-benar tidak tahu siapa aku?” Selama ini An Su terus curiga, jangan-jangan orang-orang ini sengaja membuatnya kehilangan ingatan.
“Tentu saja tidak. Di rumah pangeran kami, tak pernah ada tipu daya atau memperdaya orang! Jangan asal bicara!” jawab Wang Cining. Meski wajahnya tak terlalu menonjol, di tempat ini ia tergolong cantik. Dengan nada tak mau kalah, Wang Cining berkata:
“Aku yang menyelamatkanmu. Seharusnya aku ini penolongmu, kau harus menjadi pelayanku! Ayahku melihat kau orang baik, maka dibiarkan beristirahat di sini, siapa tahu bisa membantu keluarga kami. Jika kau terus bicara seenaknya, awas saja, akan ku hajar!” Selesai bicara, ia mengangkat tinjunya.
Melihat kepalan tangannya yang sebesar bakpao, An Su ingin tertawa, “Tinjum begitu, bisa untuk apa? Hahaha!” Wang Cining tak terima, langsung melepaskan pukulan. Tapi An Su tidak menghindar, malah menegakkan dada, membuat Wang Cining terpental dua meter jauhnya. Ia pun melongo menatap ayahnya, Wang Zehu pun merasa heran! Mengapa urat tangan dan kakinya sudah diputus, tapi tenaga dalam An Su masih tersisa? Bahkan kekuatannya luar biasa, mungkin ia sendiri pun bukan tandingannya. Bagaimana ini?
“Nona Wang! Nona Wang!” Saat Wang Zehu berpikir, seseorang menerobos masuk, ternyata Baidatong, orang kepercayaan setempat.
“Baidatong? Ada keperluan apa kau kemari? Apa ada kabar terbaru dari istana? Atau bantuan bencana kurang?” tanya Wang Cining penasaran.
“Ah, bukan itu! Aku baru dapat kabar penting, ingin segera memberitahu kalian. Mungkin bagiku bukan berita baik, tapi untuk kalian, ini kesempatan emas!” Wang Zehu jadi bingung mendengarnya.
“Wah, ini anak muda yang kalian selamatkan? Kumisnya lebat, rambut awut-awutan, wajahnya lumayan tampan juga, tapi tak kelihatan muda! Jalannya pun aneh, mirip perempuan...”
“Kau...” An Su mendidih, tapi karena urat kakinya sudah putus, tak bisa berbuat banyak.
“Oh, hampir lupa yang penting! Istana baru saja mengumumkan, pada perayaan bulan purnama akan diadakan turnamen bela diri. Semua pendekar dari berbagai perguruan, baik dari dalam maupun luar istana, boleh ikut serta. Siapa yang menjadi juara utama akan diberi gelar Penguasa Dunia Persilatan, punya hak memerintah semua klan kecuali Han! Tapi hanya pendekar dari klan, bukan rakyat biasa!”
“Apa lagi yang direncanakan istana?” Wang Zehu merenung, sementara Han Fei yang berada di sudut mengerti maksudnya.
“Itulah cara Baginda menyeimbangkan kekuasaan. Dengan satu orang menguasai dunia persilatan, Baginda akan tenang, dan dunia persilatan pun merasa aman. Bisa dipastikan, saat bulan purnama, ibukota akan dipenuhi banyak orang, suasananya pasti kacau!” Ucapan Han Fei menyadarkan Wang Zehu.
Wang Cining mengangkat lengan, berkacak pinggang, “Kita harus ikut! Keluarga Wang sudah lama di kota Luoxie, tak pernah dikenal istana, juga tak dianggap dunia persilatan. Inilah saatnya unjuk gigi! Ayah, Ibu, biarkan aku ikut turnamen! Ilmu pedang keluarga Wang nomor satu, biarkan semua orang tahu kehebatan kita!”
“Itu sebabnya aku bilang ini kesempatan emas!” Baidatong cerewet tak henti-henti, membuat An Su pusing.
“Baidatong, kau urus saja urusanmu! Soal keluarga Wang tak perlu kau campuri!” Wang Zehu mengernyit, tetap diam.
“Ayah, izinkan aku ikut!” Wang Cining merajuk, menarik-narik baju ayahnya.
“Huh, lucu sekali!” An Su menatap Wang Cining dengan sinis.
“Apa maksud tatapanmu itu? Lucu bagaimana? Kau ini orang cacat, tak pantas menilai keluarga Wang!” Sifat manja Wang Cining benar-benar membuat geram. Mata An Su membelalak, menatap Wang Cining dengan kesal.
“Kurang ajar!” Plak! Wang Cining kena tampar di pipi, seketika pipi kanannya terasa panas membara!