Bab Dua Puluh: Laba-Laba Matrilineal
“Kalelawar? Jangan remehkan makhluk apa pun yang ada di atas Sungai Kematian.” Pak Liu menatap langit dengan hati-hati, titik-titik cahaya itu berkelap-kelip berlarian ke sana kemari tanpa pola yang jelas.
Ye Xiu terus melangkah dengan santai di tepi air hitam, batu-batu aneh di sekelilingnya tampak sangat menonjol. Setiap percikan air dari sungai hitam itu seolah berusaha merembes ke celananya, sementara batu-batu gunung di sekitarnya seakan-akan ingin mendorongnya masuk ke dalam air gelap itu. Sensasi ini terasa sangat tidak alami.
“Tunggu, tunggu sebentar! Kau dengar suara aneh itu?” Tiba-tiba Pak Liu berhenti dengan cara yang agak mencurigakan, suaranya lirih, seolah menyuruh Ye Xiu untuk memperhatikan keadaan sekitar.
Ye Xiu berhenti perlahan. Garis pantai di depan semakin sempit, ada hembusan angin yang datang dari arah cahaya, tapi selain itu tidak ada yang terlalu mencurigakan. Ia menenangkan Pak Liu, “Bagaimana bisa seorang Tao kuno menjadi penakut di Sungai Kematian ini? Suara angin begini saja kau takut?”
“Sial, apa yang barusan menyentuh wajahku?” Pak Liu mengumpat, memalingkan wajahnya ke arah Ye Xiu dan membuka kedua tangannya, tampak ingin memperlihatkan sesuatu. “Cepat, gunakan api ungu-mu, biar kulihat ini apa, kenapa lengket sekali.”
Ye Xiu tak terlalu ambil pusing, ia segera melangkah dan menyalakan api ungu di telapak tangannya, mengarahkannya ke wajah Pak Liu. Di bawah cahaya terang itu, Ye Xiu melihat beberapa helai benang perak menempel di pipi Pak Liu. Ketika terkena cahaya api ungu, benang itu tampak suram. Ye Xiu berkata dengan waspada, “Sepertinya cuma benang laba-laba. Biar kutarik saja, selesai urusan.”
“Berhenti!” Pak Liu membentak marah, menghentikan gerakan Ye Xiu. Butiran keringat mulai bermunculan di dahinya, tapi tubuhnya terpaku di tempat. Ia berkata dengan suara ketakutan, “Ada yang aneh. Kenapa rasanya di punggungku juga ada yang melilit? Kau dengar suara itu? Seperti sesuatu menggesek, atau seperti capit.”
Mendengar nada suara Pak Liu yang berubah, hati Ye Xiu mendadak dingin. Memang, ada suara gesekan halus di atas kepala mereka. Ye Xiu memberi isyarat agar Pak Liu tetap tenang, lalu perlahan mengarahkan api ungu ke punggung Pak Liu. Begitu cahaya menyorot, tampak jelas jaring laba-laba besar memantulkan cahaya kehijauan, seluruh tubuh Pak Liu ternyata sudah terperangkap di dalamnya.
“Ters! Suara makhluk merayap tiba-tiba terdengar dari atas, sebuah moncong tajam seperti pisau meluncur serong dari atas kepala mereka, mengarah tepat ke leher Pak Liu.
“Boom!” Dalam kepanikan, Ye Xiu melancarkan serangan api ungu ke atas. Di bawah cahaya menyilaukan, seekor laba-laba raksasa terlihat bergelantungan dengan kakinya yang mencengkeram. Panas api ungu menghentikan serangannya, setelah mengeluarkan suara melengking, laba-laba itu memanjat ke atas, menghilang dari pandangan mereka.
“Cepat, cepat, gunakan pisau tipismu, potong benang ini!” Pak Liu ketakutan melihat laba-laba raksasa itu. Ia segera memanggil pisau tipisnya. Pisau itu, seolah mengerti bahaya, berusaha memotong benang-benang itu. Namun, benang-benang laba-laba itu tidak putus, malah semakin banyak dan melilit Pak Liu dari segala arah.
“Argh…” Melihat situasi mendesak, Ye Xiu tak sempat memikirkan keselamatan Pak Liu, langsung mengarahkan api ungu ke benang-benang itu. Meski tidak terlalu efektif, setidaknya perlahan-lahan benang-benang itu mulai meleleh. Namun, helai-helai baru yang turun dari atas jauh lebih cepat daripada kecepatan api membakar. Mungkinkah cahaya hijau tadi bukanlah mata kelelawar, melainkan mata semua laba-laba?
“Tidak bisa, tidak ada gunanya. Laba-laba di Sungai Kematian adalah makhluk terkutuk oleh Asura. Satu-satunya cara untuk melepaskan benang ini adalah dengan membunuh induk laba-labanya.” Dalam sekejap, tubuh bagian bawah Pak Liu sudah sepenuhnya terbungkus benang-benang itu, kakinya tak bisa bergerak sedikit pun. “Laba-laba ini dulunya pelayan Asura, lalu dihukum seumur hidup bergantung terbalik. Hidupnya dihabiskan untuk menenun jaring, benang ini bukan sembarangan bisa dilepas.”
“Sial, ini bukan saatnya bercerita! Katakan saja, induk laba-laba itu yang mana? Apakah yang tadi menyerang?” Ye Xiu menggoyang-goyangkan api ungunya, tapi benang-benang itu terlalu cepat datang dari segala arah. Ia mencoba mencari asal benang, namun tidak menemukan laba-laba di sekeliling, hanya batu-batu kosong yang tak dapat dimengerti. “Apa semua laba-laba itu bersembunyi dalam batu?”
“Awas di atas!” Pak Liu mengerahkan tenaganya, mendorong Ye Xiu keluar. Tepat saat itu, induk laba-laba kembali muncul dari kegelapan, satu kakinya yang tajam menancap ke kaki Pak Liu. Pak Liu menjerit kesakitan, tak berdaya melawan.
Ye Xiu terjatuh berat ke tanah akibat dorongan Pak Liu. Ia segera menyiapkan serangan api unggu dan menghantamkan ke arah perut induk laba-laba. Makhluk itu terguling jatuh dari tubuh Pak Liu, lalu dengan cepat memanjat dinding batu, menghilang lagi ke dalam kegelapan.
“Begini terus kita takkan selamat. Pak Liu, mana bintang lima pembekumu? Coba bekukan benang-benang ini!” Ye Xiu mengingatkan, lalu menyalakan api ungu hingga seisi gua bersinar merah terang. “Keluarlah, kau makhluk keji!”
Pak Liu membaca mantra, mengendalikan pisau tipisnya, dan mengambil bintang lima dari kantong pinggangnya. Dalam sekejap, bintang itu menempel pada jaring laba-laba, membuat benang-benangnya membeku. Suara retakan es terdengar, namun benang itu hanya berubah menjadi serpihan es tipis.
“Sudahlah, aku nekat saja!” Melihat benang-benang itu masih lentur, Ye Xiu melepas pakaiannya dan menyiramkan air dari sungai hitam ke tubuh Pak Liu. “Dengan air sungai sedingin ini, pasti bisa!”
“Ye Xiu… brengsek…” Pak Liu basah kuyup, tubuhnya menggigil hingga sulit bicara. Tapi justru karena air sungai itu, kekuatan bintang lima pembeku menjadi maksimal, dalam sekejap jaring laba-laba membeku total.
Saat Ye Xiu hendak memukul dan menghancurkan benang-benang yang sudah membeku itu, sebuah jaring besar tiba-tiba menimpa seluruh tubuhnya, membungkusnya dalam sekejap. Lalu bayangan hitam melintas, induk laba-laba itu turun dari atas dan menarik Ye Xiu beserta benang-benang ke udara.
“Graaa!” Induk laba-laba yang terluka oleh api ungu tadi, kini berdiri dengan kaki-kakinya yang hitam legam, matanya tak terhitung banyaknya dan mulutnya yang tajam terus membuka dan menutup, seolah siap menelan Ye Xiu hidup-hidup.
“Plak!” Di belakang laba-laba, Pak Liu menggunakan kekuatan pisau tipisnya untuk menghancurkan benang-benang yang sudah membeku. Ia melompat ke dinding tebing, mencari posisi di samping laba-laba. Dengan sekali tebas, ia berhasil memotong salah satu kaki depan induk laba-laba itu.