Bab Dua Puluh Satu: Gadis Polos Nan Lugu
Pacar ditiup angin? Tang Tian sempat tertegun saat melihatnya, lalu tanpa sadar mundur selangkah dan menengadah menatap nama toko itu.
“Toko Khusus Perlengkapan Dewasa Berwarna Merah Muda.”
Karena jendela toko itu ditutupi tirai merah muda, jika tidak memperhatikan dengan saksama, benar-benar sulit menebak toko apa ini pada pandangan pertama.
Pacar yang bisa ditiup angin, hm, ini benar-benar segar dan unik. Selain itu, dengan sengaja menyebutnya “dia” alih-alih “itu”, terlihat jelas orang ini sangat mencintai pacarnya.
“Coba lihat ke atas.” Tang Tian memperingatkan Olsen yang masih tampak bergumam sendiri.
Olsen menoleh ke atas dengan heran, lalu wajahnya langsung memerah saat melihat nama toko.
“Sekarang paham, kan?” Tang Tian tersenyum.
Olsen menggeleng pelan.
Tang Tian sedikit terdiam. Dalam ingatannya di kehidupan sebelumnya, Olsen adalah wanita yang seksi dan mempesona, bahkan pernah membintangi serial Amerika berating R berjudul “Lelaki Tua”. Seharusnya ia termasuk tipe wanita yang cukup terbuka.
Namun sejak tadi hingga sekarang, reaksinya justru seperti gadis lugu yang polos? Kesan di bawah alam sadar dan kenyataan memberikan kontras yang sangat kuat.
Sepertinya hanya ada satu kemungkinan, Olsen memang benar-benar polos dan naif, hanya saja setelah lama berkecimpung di dunia perfilman, ia perlahan berubah.
Itu hal yang wajar, karena manusia tidak akan tetap sama selamanya.
“Sudahlah, ayo kita lihat-lihat ke tempat lain.” ujar Tang Tian.
“Tapi kenapa dibilang ditiup angin?” Olsen masih tampak ingin tahu jawabannya.
“Pacar tiup, perlengkapan dewasa...” Tang Tian akhirnya langsung mengisyaratkan, melihat reaksi Olsen seperti itu.
Barulah Olsen sadar, dan wajahnya langsung memerah padam.
“Kita... lebih baik lihat-lihat ke tempat lain saja.” Ia menarik napas lega, kemudian berkata.
Keduanya pun berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan.
Olsen bertanya pada Tang Tian ingin makan apa, sementara Tang Tian malah menanyakan pantangan makanan serta selera Olsen.
Akhirnya, mereka duduk di sebuah restoran bergaya Barat.
“Kau benar-benar lelaki yang sopan.” Olsen tak bisa menahan diri berkata begitu setelah duduk.
Awalnya ia yang mengundang Tang Tian makan, namun akhirnya justru memilih restoran yang menurutnya paling nyaman.
“Aku sudah pernah mencicipi segalanya, semua jenis makanan bisa kumakan.” jawab Tang Tian spontan.
Namun setelah berkata begitu, ia merasa kurang tepat—seolah itu pengalaman hidup di masa lalu.
“Kau tahu, di Tiongkok itu ada semua jenis makanan, baik masakan Barat maupun Timur.” Ia menambahkan.
Olsen tertawa mendengarnya, Tang Tian bahkan bisa mencari alasan atas sikap sopannya sendiri.
Sementara mereka berbincang, pelayan mulai menghidangkan makanan.
“Kau juga suka Audrey Hepburn?” tanya Olsen.
“Tidak juga, aku hanya sekadar melihat-lihat. Tapi memang Hepburn sangat cantik, aku pernah menonton film ‘Perang dan Damai’.” Tang Tian tahu yang dimaksud Olsen adalah buku yang kemarin ia lihat. Meski ia belum pernah membaca bukunya, dari judulnya saja sudah tampak nama Hepburn.
Olsen tertawa lagi, Tang Tian memang kadang bicara apa adanya.
“Ada manfaatnya? Buku itu untuk aktingmu.” tanya Tang Tian lagi.
“Bermanfaat, karena film pertamaku berkaitan dengan dia.”
“Film apa?”
“Rahasia,” jawab Olsen sambil tersenyum.
Walaupun di kehidupan sebelumnya Tang Tian cukup mengenal dunia hiburan Amerika, tapi itu hanya sebagian saja. Ia tentu tidak tahu persis kisah setiap aktris di sana. Ia tahu Olsen memerankan Penyihir Merah di film Marvel, tapi untuk film pertamanya, ia benar-benar tidak tahu.
“Menurutku, kalau kau berakting, jenis karakter yang abu-abu, atau yang terlihat jahat namun sebenarnya baik, pasti akan sangat cocok.” saran Tang Tian.
“Kenapa?” Olsen penasaran, karena film pertamanya justru berkarakter ceria dan polos.
Meski Tang Tian di kehidupan sebelumnya tidak pernah berakting, namun ia telah berinvestasi di banyak film. Ia cukup memahami bidang itu, apalagi ia tahu betul alasan Olsen bisa menjadi terkenal.
“Sebagai penonton biasa, saat menonton film, yang dilihat pertama tentu adalah orangnya, kan?”
Olsen mengangguk.
“Jadi, pada dasarnya, penampilan seseorang akan membentuk kesan bawah sadar di benak kita. Seperti Hepburn yang kau sebutkan tadi, ia sangat cantik—kecantikan yang bersih dan suci. Ia sangat cocok memerankan tokoh di ‘Perang dan Damai’, gadis cantik di tengah kekacauan, bunga teratai putih yang hampir runtuh di tengah asap perang—bukankah itu yang paling disukai penonton?”
Olsen tampak mengerti, bahkan diam-diam menatap Tang Tian lebih lama.
Benarkah lelaki ini usianya dua tahun di bawahku?
“Kemudian, soal dirimu, matamu sangat memesona, memberikan kesan eksotis, seolah penyihir cantik dari legenda misterius yang bisa menawan hati siapa saja hanya dengan satu tatapan. Ditambah lagi postur tubuhmu nyaris sempurna, mudah sekali menarik perhatian. Perempuan seperti ini pada pandangan pertama memberi kesan menawan dan sedikit jahat, namun jika perannya abu-abu atau bahkan baik, selain mudah diterima, juga memberi kontras yang menarik. Penonton pasti akan terkesan.”
Setelah mendengar itu, wajah Olsen benar-benar memerah.
Apa yang dikatakan Tang Tian memang benar. Ia mengambil contoh Hepburn sebagai pembuka, lalu penjelasannya barusan bisa menjadi contoh klasik dalam dunia akting.
Namun, mungkin karena terlalu bersemangat, tanpa sadar ia malah memuji Olsen setinggi langit—mata memesona, eksotis, menawan, menarik perhatian—semua diucapkan langsung di depan Olsen. Tidak heran kalau Olsen yang masih polos seperti sekarang jadi salah tingkah.
Suasana pun menjadi agak canggung dan penuh nuansa.
“Tuan, salad buah kalian,” pelayan datang menghampiri.
“Letakkan saja di sini,” ujar Olsen dengan wajah tetap merah.
Setelah pelayan meninggalkan meja, suasana aneh itu masih terasa di antara mereka.
“Kau tahu kenapa roti bisa terbang?” Tang Tian tiba-tiba bertanya sambil menatap roti nanas di hadapannya.
“Roti? Bisa terbang?” Olsen tampak bingung.
Tang Tian mengangguk.
“Karena roti itu ada di pesawat?” Olsen menebak-nebak.
Tang Tian menggeleng.
“Karena itu memang roti yang bisa terbang.”
Olsen tertegun. Mana ada roti di dunia ini yang bisa terbang?
Tang Tian mengambil roti dengan garpu, lalu mengayunkannya pelan di depan Olsen.
Olsen mendelik kesal, “Itu namanya terbang?”
“Kau tahu kenapa tikus bisa terbang?” tanya Tang Tian lagi, mengabaikan ekspresi Olsen.